KELOMPOK CERDAS OSMARU FISIP UNS 2013

Karakteristik Pemimpin Ideal dan menjadi idaman Bangsa Indonesia?

 

Menjadi pemimpin itu enak, bisa suruh sana, suruh sini, dihormati bawahan, kalau ada yang enak dapat jatah duluan, tapi kalau ada yang tidak enak, anak buahnya yang maju duluan. Makanya itu, orang berloba-lomba mengajukan diri dan melakukan apa pun (bahkan kadang harus melalui cara yang tidak benar, seperti melalui penyuapan, money politic, kampanye hitam, serangan fajar, dan sebagainya). Apakah benar seperti itu?
Seandainya stigma yang dipahami oleh para calon pemimpin adalah pemimpin yang melayani – yang melayani dengan hati – serta betapa ‘setiap yang dipimpin adalah tanggung jawab pemimpin’ mungkin seseorang akan berpikir dua tiga empat dan seribu kali untuk mengajukan diri untuk duduk di kursi kepemimpinan.
Nah, sebenarnya, sosok seperti apa sih yang cocok untuk menjadi pemimpin? Berikut ini adalah rerasan seorang karyawan terhadap atasannya mengenai pemimpinnya.

Ini hari Senin, awal pekan. Hari dimana seharusnya pekerjaan diawali dengan semangat dan energi positif. Tapi sayang, gara-gara seorang atasan yang kurang cerdas… awal pekan ini harus saya mulai dngan gerutuan Setahu Saya sih, yang namanya atasan itu harus lebih cakap dan lebih mahir dari pada anak buahnya. Tak harus bergelar lebih tinggi atau lebih tua memang, tetapi paling tidak bisa menggunakan jabatannya secara bijak. Ini sebaliknya… bukanlah seseorang yang menurut saya memiliki kapasitas untuk menjadi seorang atasan. 

Dalam rangka menjalankan fungsi yang diemban dalam kepemimpinan ternyata seorang pemimpin harus memiliki karakter sebagai pemimpin yang ideal dan efektif. Nah, di sini saya kutipkan beberapa karakter pemimpin yang ideal menurut buku yang kubaca ya….
Morgan (2006:322): ciri-ciri pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mengenali dan menyediakan besaran pembinaan yang tepat bagi bawahan.
Jacobs, Masson, Harvill, dan Schimmel (2012:25): pemimpin yang efektif memiliki kepribadian yang caring, openness, flexibility, warmth, objectivity, truthworthiness, honesty, strength, patience, dan sensitivity. Ciri lainnya adalah bahwa pemimpin tersebut nyaman dengan diri sendiri dan orang lain, meliputi nyaman dengan posisi sebagai pemegang otoritas, percaya diri dengan kemampuannya untuk memimpin, dan kemampuan untuk mendengarkan perasaan, reaksi, mood, dan kata-kata orang lain. Hal terpenting lainnya adalah memiliki kesehatan psikologis.
Adair (2011): kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang mampu memahami dan memenuhi tiga jenis kebutuhan dalam oganisasi, yaitu kebutuhan tugas (task needs), kebutuhan individu (individual needs), dan kebutuhan tim (team needs). Konsep fungsi kepemimpinan efektif berdasarkan beberapa pendapat di atas bisa dijelaskan bahwa konsep kepemimpinan efektif adalah konsep kepemimpinan yang memperhatikan relasi dan kebutuhan antara pemimpin dan pengikut, di mana di dalamnya terdapat karakteristik yang menjadi instrumen untuk menghasilkan output kepemimpinan. Instrumen kepemimpinan tersebut merupakan hubungan yang didasari oleh kebajikan moral dan sosial.
Muenjohn dan Armstrong (2007): ketika seorang pemimpin bersedia memahami bawahan maka bawahan akan memiliki kemampuan untuk melakukan pengembangan diri sendiri. Dengan adanya kepemimpinan partisipatif maka membuka ruang bagi pemberdayaan staf untuk berhubungan dengan bawahan.

Ini artinya, pemimpin yang efektif harus memiliki gaya kepemimpinan yang sesuai dengan situasi bawahan, situasi lingkungan.  Nah, gaya kepemimpinan seperti apa sih….
Martin, Cashel, Waggstaff, dan Breunig (2006:45): gaya kepemimpinan adalah cara di mana pemimpin mengekspresikan pengaruh mereka. Interpretasi dalam teori gaya kepemimpinan mengidentifikasi tipe khusus dari perilaku yang menekankan pada kemampuan kepemimpinan. Dalam teori ini, sejumlah faktor akan menentukan gaya kepemimpinan.
Vroom (dalam Lussier dan Achua, 2010:166) mengidentifikasi lima gaya kepemimpinan yang didasarkan pada tingkat partisipasi pemimpin dan pengikut dalam pengambilan keputusan. Dalam hal ini, Vroom mengadopsi model kepemimpinan kontinuum yang dikembangkan oleh Tannenbaum dan Schmidt, yang memeringkat gaya kepemimpinan mulai dari gaya kepemimpinan otokratik sampai partisipatif. Lima gaya kepemimpinan yang dikembangkan Vroom tersebut meliputi:

  1. Decide. Pemimpin membuat keputusan sendiri dan mengumumkannya, atau menyampaikannya kepada pengikut. Pemimpin mungkin mendapat informasi dari pihak lain di luar kelompok maupun di dalam kelompok tanpa melakukan spesifikasi permasalahan. 
  2. Consult individually. Pemimpin memberitahu pengikut secara individual tentang permasalahan, mendapatkan informasi dan arahan, dan kemudian membuat keputusan. 
  3. Consult group. Pemimpin memimpin pertemuan kelompok dan memberitahu pengikut mengenai permasalahan, mendapatkan informasi dan arahan, dan kemudian mengambil keputusan. 
  4. Facilitate. Pemimpin memimpin pertemuan kelompok, dan bertindak sebagai fasilitator untuk menentukan permasalahan dan membatasi dalam pengambilan keputusan yang harus dibuat. Pemimpin mencari partisipasi dan persetujuan dalam pengambilan keputusan tanpa menekankan idenya. 
  5. Delegate. Pemimpin membiarkan kelompok mendiagnosa permasalahan dan membuat keputusan. Peran pemimpin hanya menjawab pertanyaan dan menyediakan sumber daya dan memberi semangat. 

Dalam rangka mengetahui gaya kepemimpinan menurut Vroom, maka Vroom menyusun model kuesioner dengan mempertimbangkan tujuh aspek, yaitu (Lussier dan Achua, 2010:168): 

  1. Decision significance. Aspek ini mempertanyakan seberapa penting sebuah keputusan terhadap keberhasilan suatu proyek atau organisasi. Apakah tingkat kepentingan keputusan tersebut tinggi (H-high) atau rendah (L-low). Makin tinggi tingkat kepentingan keputusan tersebut dalam pengambilan keputusan maka makin penting pula tingkat keterlibatan yang harus ditunjukkan oleh pemimpin. 
  2. Importance of commitment. Aspek ini mengukur seberapa penting komitmen pengikut untuk mengimplementasikan keputusan. Jika penerimaan atas keputusan tersebut penting untuk implementasi yang efektif, maka tingkat kepentingannya adalah tinggi (H), dan jika komitmen pengikut tidak penting maka tingkat kepentingannya adalah rendah (L). 
  3. Leader expertise. Aspek ini mengukur seberapa banyak pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh pemimpin terkait dengan keputusan yang diambil. Jika keahlian pemimpin tinggi (H) maka partisipasi pengikut tidak terlalu diperlukan dalam kondisi ini, tetapi jika keahlian pemimpin rendah (L) maka harus melibatkan pengikut. 
  4. Likelihood of commitment. Jika pemimpin membuat keputusan sendiri, apakah pengikut memiliki komitmen untuk mematuhinya (H) atau tidak (L)? Jika pembuatan keputusan tersebut memiliki kemungkinan besar bahwa pengikut akan bersedia mengimplementasikannya maka hanya perlu sedikit partisipasi pengikut dalam pengambilan keputusan. 
  5. Group support for objectives. Aspek ini mengukur tinggi rendahnya dukungan pengikut terhadap keberhasilan proyek atau organisasi. Makin tinggi (H) dukungan yang diberikan maka makin tinggi partisipasi pengikut. 
  6. Group expertise. Aspek ini mengukur seberapa banyak pengetahuan dan keahlian yang dimiliki oleh pengikut terkait dengan keputusan yang diambil. Jika keahlian pengikut tinggi (H) maka makin tinggi pula partisipasi pengikut yang diperlukan dalam kondisi ini. 
  7. Team competence. Aspek ini mengukur kemampuan individu untuk bekerja bersama sebagai tim. Jika tinggi (H) maka lebih banyak partisipasi yang diperlukan. 

 Semoga bermanfaat….

Sumber:

  1. Adair, John. 2011. John Adair’s 100 Greatest Ideas for Effective Leadership. West Sussex, UK: Capstone Publishing Ltd (A Wiley Company). 
  2. Jacobs, E., Robert L. L. Masson, Riley L. Harvill, dan Christine J. Schimmel. 2012. Group Counseling: Strategies and Skills. Beltmont, CA: Cengage Learning. 
  3. Lussier, Robert N. dan Christopher F. Achua. 2010. Leadership: Theory, Application, and Skill Development. Mason, OH: South-Western Cengage Learning. 
  4. Martin, Bruce, Chistine Cashel, Mark Wagstaff, dan Mary Breunig. 2009. Outdoor Leadership: Theory and Practice. Champaign, IL: Human Kinetics. 
  5. Morgan, Howard, Phil Harkins, dan Marshal Goldsmith. 2006. The Art and Practice Leadership Coaching. Alih bahasa: Santi Indra Astuti. Jakarta: PT Transmedia. 
  6. Muenjohn, Nuttawuth dan Anona Armstrong. 2007. Transformational Leadership: The Influence of Culture on the Leadership Behaviours of Expatriate Managers. International Journal of Business and Information, Volume 2, Number 2, December 2007, pp.265-283.

 

TATA TERTIB KEHIDUPAN MAHASISWA DI UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(SK REKTOR NOMOR: 828/H27/KM/2007)

 

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

 

Dalam kutipan yang dimaksud dengan:

  1. Universitas adalah Universitas Sebelas Maret.
  2. Rektor adalah Rektor Universitas.
  3. Fakultas adalah fakultas-fakultas yang ada di Universitas Sebelas Maret.
  4. Pimpinan Fakultas adalah Dekan dan Para Pembantu Dekan.
  5. Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar secara sah dan belajar pada salah satu Fakultas yang diselenggarakan oleh Universitas Sebelas Maret.
  6. Tata tertib mahasiswa adalah ketentuan yang mengatur tentang kehidupan mahasiswa yang dapat menciptakan suasana kondusif dan menjamin berlangsungnya proses belajar mengajar secara terarah dan teratur.
  7. Larangan adalah hal-hal yang tidak diperkenankan dikerjakan oleh mahasiswa mengenai hal-hal yang dapat mengganggu ketentraman baik di tingkat Jurusan, Program Studi, atau Bagian yang ada di universitas.
  8. Pelanggaran adalah suatu tindakan yang bertentangan dengan ketentuan tata tertib ini.
  9. Sanksi adalah tindakan yang perlu dikenakan kepada mahasiswa yang ternyata terbukti melakukan pelanggaran.
  10. Komisi Disiplin adalah komisi memantau pelaksanaan tata tertib untu kemudian melaporkan dan memberikan masukan kepada Rektor atau Dekan.
  11. Kampus Universitas Sebelas Maret adalah semua tempat dalam wilayah Universitas Sebelas Maret beserta seluruh fasilitas, sarana dan prasarana yang ada di dalamnya.
  12. Minuman keras adalah segala jenis minuman yang mangandung alkohol seperti diatur dalam keputusan Menteri Kesehatan RI.
  13. Narkotika adalah bahan yang diidentifikasikan sebagai narkotika dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika.
  14. Psikotropika adalah bahan yang diidentifikasikan sebagai psikotropika dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.
  15. Perjudian adalah permainan yang menggunakan alat bantu baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk digunakan sebagai media taruhan dengan uanag atau barang lainnya yang berharga.
  16. Senjata adalah segala jenis alat yang membahayakan atau mematikan jika digunakan, seperti diatur dalam Undang-Undang.
  17. Bahan peledak adalah bahan atau zat yang berbentuk padat, cair, gas, atau campurannya yang apabila dikenai atau terkena sesuatu aksi berupa panas, benturan, atau gesekan akan berubah secara kimiawi dalam waktu yang sangat singkat disertai efek panas dan tekanan tinggi, termasuk di dalamnya adalah bahan peledak yang digunakan untuk keperluan industri maupun militer.
  18. Publikasi adalah pengumuman, penerbitan dan lain-lain.
  19. Poster adalah plakat yang dipasang di tempat umum (berupa pengumuman atau iklan).
  20. Spanduk adalah kain pentang berisi slogan/ propaganda atau berita yang perlu diketahui umum.
  21. Umbul-umbul adalah bendera kecil beraneka warna yang dipasang memanjang ke atas, dipasang untuk memeriahkan suasana serta menarik perhatian.

 

 

 

 

 

BAB II

HAK DAN KEWAJIBAN

Pasal 2

 

(1)    Mahasiswa mempunyai hak:

  1. Menuntut menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk dan mengkaji ilmu, teknologi dan seni sesuai dengan norma dan susila yang berlaku dalam lingkungan masyarakat akademik;
  2. Memperoleh pengajaran sebaik-baiknya dan layanan bidang akademik sesuai dengan minat/ bakat, kegemaran dan kemampuan;
  3. Memanfaatkan fasilitas universitas dalam rangka kelancaran proses belajar;
  4. Mendapat bimbingan dari dosen yang bertanggung jawab atas program studi yang diikuti dalam penyelesaian studinya;
  5. Memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan program studi yang diikuti serta hasilnya;
  6. Menyelesaikan studi lebih awal dari jadwal yang ditetapkan sesuai persyaratan yang berlaku;
  7. Memperoleh layanan kesejahteraan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  8. Memanfaatkan sumber daya universitas melalui perwakilan-perwakilan/ Organisasi kemahasiswaan untuk mengurus dan mengatur kesejahteraan, minat, bakat, penalaran, dan tata kehidupan masyarakat;
  9. Pindah ke Perguruan Tinggi lain dan program studi lain, di lingkungan universitas, bilamana memenuhi persyaratan penerimaan mahasiswa pada perguruan tinggi atau program studi yang diinginkan, dan bilamana daya tampung perguruan tinggi atau program studi yang bersangkutan memungkinkan;
  10. Ikut serta dalam kegiatan organisasi mahasiswa universitas sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
  11. Memperoleh pelayanan khusus bilamana menyandang cacat sesuai dengan kemampuan universitas;

 

(2)    Setiap mahasiswa berkewajiban

  1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  2. Ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan kecuali bagi mahasiswa yang dibebas tugaskan dari kewajiban tersebut sesuai dengan peraturan yang berlaku;
  3. Menggunakan masa belajar di Universitas dengan sebaik-baiknya;
  4. Berdisiplin, bersikap jujur, bersemangat dan menghindari perbuatan yang tercela;
  5. Menjaga kewajiban dan nama baik universitas;
  6. Menghormati dan menghargai semua pihak demi terbinanya suasana hidup kekeluargaan sebagai pengamalan pancasila dan UUD 1945;
  7. Bertenggang rasa dan menghargai orang lain;
  8. Bersikap dan bertingkah laku terhormat sesuai dengan martabatnya;
  9. Menghormati dan menghargai kepada tenaga kependidikan;
  10. Berusaha mengembangkan kemampuan yang dimiliki agar dapat bekerja dengan sebaik-baiknya;
  11. Menjaga kesehatan dirinya dan keseimbangan lingkungan;
  12. Mematuhi semua peraturan/ ketentuan yang berlaku di universitas;

m. Memelihara dan meningkatkan mutu lingkungan hidup di kampus;

  1. Menghargai dan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, teknologi dan atau seni;
  2. Menghargai dan menjunjung tinggi kebudayaan nasional; dan
  3. Berpakaian sopan dan tertib sesuai dengan ketentuan yang berlaku di universitas.

 

 

 

 

 

BAB III

LARANGAN

Pasal 3

 

Mahasiswa dilarang:

  1. Melalaikan kewajibannya seperti tersebut pasal 2.
  2. Mengganggu penyelengaraan pendidikan, penalaran, minat, bakat, karier dan kesejahteraan mahasiswa.
  3. Melanggar etika akademik seperti plagiarisme, menyontek, memalsu nilai, memalsu tanda-tangan, memalsu cap, memalsu ijazah dan/atau perbuatan lain yang melanggar ketantuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  4. Melakukan tindakan tidak terpuji yang dapat merusak martabat dan wibawa universitas.
  5. Mengatasnamakan universitas tanpa mandat atau izin dari Rektor dan atau pejabat yang berwenang.
  6. Menjadikan kampus sebagai ajang pertarungan kelompok, kepentingan politik dan/ atau yaang berbau sara.
  7. Menginap di lingkungan kampus, kecuali ada izin dari Universitas dan atau fakultas yang berkaitan dengan kegiatan proses belajar mengajar.
  8. Merokok di ruang kuliah, perpustakaan, laboratorium, kantor dan tempat lain pada saat proses belajar mengajar berlangsung.
  9. Memasuki, mencoba memasuki atau menggunkan dan memindah tangankan tanpa izin yang berwenang, ruangan, bangunan, dan sarana lain milik atau dibawah pengawasan universitas.
  10. Menolak untuk meninggal atau menyerahkan kembali ruangan bangunan atau sarana lain milik atau di bawah pengawasan universitas yang digunakan secara tidak sah.
  11. Mengotori atau merusak ruangan, bangunan dan sarana lain, milik atau di bawah pengawasan universitas.
  12. Menggunakan saran dan dana yang dimiliki atau di bawah pengawasan universitas secara tidak bertanggung jawab.
  13. Memiliki, membawa, menyimpan, memperdagangkan atau mengedarkan serta membuat maupun mengkonsumsi minuman keras, bila berada di dalam lingkungan kampus.
  14. Memiliki, membawa, menyimpan, memperdagangkan atau mengedarkan serta membuat maupun mengkonsumsi narkotika atau psikotropika, bila berada di dalam lingkungan kampus.
  15. Melakukan kegiatan yang dapat dikategorikan sebagai perjudian, bila berada di dalam lingkukangan kampus.
  16. Membawa, menyimpan, membuat, memperdagangkan serta menggunakan senjata, tanpa ijin yang berwenang, bila berada di dalam lingkungan kampus.
  17. Membawa, menyimpan, membuat, memperdagangkan, atau mengedarkan serta menggunakan bahan peledak, tanpa izin yang berwenang, bila berada di dalam lingkungan kampus.
  18. Melakukan perbuatan asusila, pelecehan dan atau tindak kejahatan seksual seperi:
  19. Perzinaan;
  20. Mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh;
  21. Menyakiti seseorang secara seksual;
  22. Memperkosa dan melakukan perbuatan asusila lainnya;

Tindakan sebagaimana tersebut diatas dilaporkan oleh:

a. Pihak yang langsung terkena atau korban;

b.Pihak yang mempunyai hubungan langsung dengan korban;

c. Saksi yang melihat dan atau mendengar terjadinya perbuatan asusila, pelecehan dan pelanggaran seksual tersebut;

Korban ataupun saksi dapat melaporkan secara tertulis maupun lisan, kejadian yang dialaminya kepada pejabat di bidang kemahasiswaan dan atau kepada Komisi Disiplin Mahasiswa.

 

 

 

BAB IV

FASILITAS, SARANA DAN PRASARANA

Pasal 4

 

(1)    Demi kelancaran dan kelangsungan kegiatan belajar mengajar, setiap mahasiswa wajib menjaga dan memelihara fasilitas, sarana dan prasarana universitas.

(2)    Setiap perubahan, perpindahan, dan pengambilan fasilitas yang dimiliki universitas harus seizin pejabat yang berwenang.

 

BAB V

KEGIATAN DAN PERIZINAN

Pasal 5

 

(1)    Kegiatan mahasiswa di universitas meliputi:

  1. Kegiatan kurikuler
  2. Kegiatan ekstra kurikuler

(2)    Kegiatan lain di luar ayat (1) akan diatur dalam peraturan tersendiri.

 

Pasal 6

(1)    Demi kelancaran kelangsungan kegiatan, setiap kegiatan harus mendapatkan izin:

  1. Kegiatan kurikuler di kampus di luar waktu yang telah ditentukan, atau pada hari libur dan hari besar;
  2. Kegiatan ekstra kurikuler
  3. Kegiatan lain.

(2)    Semua penggunaan fasilitas yang dimiliki oleh fakultas, jurusan, bagian, program studi, di universitas harus seizin Dekan atau Rektor.

(3)    Dekan/ Rektor melimpahkan wewenang pemberian izin yang dimaksud pada ayat (2) kepada Pembantu Dekan/ Pembantu Rektor sesuai bidangnya masing-masing.

Kegiatan mahasiswa yang dilakukan di dalam lingkungan fakultas harus mendapat izin dari Dekan, sedangkan kegiatan di luar lingkungan fakultas harus mendapat izin dari Rektor.

 

BAB VI

POSTER, SPANDUK, UMBUL UMBUL DAN MEDIA PUBLIKASI LAIN

Pasal 7

 

(1)    Pemasangan poster, spanduk, umbul umbul dan sejenisnya serta penyebaran selebaran, dan sejenisnya hanya dilakukan pada tempat tempat yang telah ditentukan.

(2)    Pemasangan poster dan lain sebagainya sebagaimana tersebut diatas pada ayat (1) harus mendapat izin dari pihak berwenang.

(3)    Gambar maupun tampilan pada poster, spanduk, umbul-umbul harus sesuai dengan norma dan etika yang berlaku.

 

BAB VII

BUSANA

Pasal 8

 

(1)    Setiap mahasiswa harus berpakaian sopan dan rapi dengan norma-norma yang berlaku.

(2)    Jenis dan macam pakaian disesuaikan dengan kegiatan yang sedang dilaksanakan.

(3)    Mahasiswa dilarang mengenakan kaos oblong dan sandal pada saat kegiatan kurikuler di dalam ruang kuliah.

 

 

 

BAB VII

SANKSI

Pasal 9

 

(1)    Setiap pelanggaran terhadap peraturan tata-tertib ini akan dikenakan sanksi sesuai dengan berat ringannya pelanggaran, yang berupa:

  1. Peringatan lisan;
  2. Peringatan tertulis
  3. Pencabutan sementara haknya menggunakan fasilitas universitas maupun fakultas;
  4. Larangan melakukan kegiatan akademik dalam periode waktu tertentu (skorsing);
  5. Pencabutan statusnya sebagai mahasiswa.

(2)    Penetapan dan penjatuhan berat ringannya sanksi diatur dalam peraturan tersendiri.

 

BAB IX

PENGHARGAAN

Pasal 10

 

(1)    Mahasiswa yang berprestasi dan atau berprestasi luar biasa baik dalam bidangnya atau di luar bidangnya, baik dalam lingkungan kampus maupun di luar lingkungan kampus dapat diberi penghargaan dari Universitas.

(2)    Sebelum memberikan penghargaan kepada mahasiswa yang berprestasi luarbiasa, Rektor perlu mandapatkan pertimbangan Senat Universitas.

(3)    Bentuk dan sifat penghargaan ini akan diatur dalam peraturan tersendiri.

 

BAB X

KOMISI DISIPLIN

Pasal 11

Untuk mengefektifkan pelaksanaan Tata Tertib Kehidupan Mahasiswa di Universitas Sebelas Maret dibentuk Komisi Disiplin Mahasiswa. Bentuk organisasi, susunan keanggotaan, tugas, kewenangan dan tanggung jawabnya diatur dalam peraturan tersendiri.

 

BAB XI

KOMISI ADVOKASI

Pasal 12

 

Untuk membantu mahasiswa yang bermasalah dibentuk Komisi Advokasi, yang akan memberi konsultasi, pembinaan dan atau bantuan hukum kepada mahasiswa. Bentuk organisasi, susunan keanggotaan, tugas, kewenangan dan tanggung jawabnya, diatur dalam peraturan tersendiri.

 

BAB XII

KETENTUAN LAIN

Pasal 13

 

Hal-hal yang belum diatur dalam peraturan ini akan diatur kemudian.

 

BAB XIII

KETENTUAN UMUM

Pasal 14

 

(1)    Tata Tertib Kehidupan Mahasiswa di Universitas Sebelas Maret ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

(2)    Keputusan Rektor Universitas Sebelas Maret Nomor: 487A/J27/KM/2005 tentang Tata Tertib Kehidupan Mahasiswa di Universitas Sebelas Maret dinyatakan tidak berlaku lagi.

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.